Apakah emas dalam periode “bubble”?

Tulisan ini saya buat atas feedback email dari beberapa rekan terhadap catatan saya terdahulu. Disitu saya menuliskan bahwa sebagai alternatif untuk lindung nilai asset (hedging) saya memutuskan untuk membeli emas, yang dikategorikan orang sebagai komoditi pertambangan itu. Ada rekan yang juga berpendapat bahwa periode keemasan emas ini adalah sebagai bubble yang setiap saat bisa pecah (burst) seperti halnya stock, housing, dan sebagainya. Teorinya sederhana, apabila nilai emas ini tinggi diatas inflasi kemudian demand lebih tinggi dari supply karena banyak investor bertindak spekulatif maka nilai akan overprice. Lalu apakah benar emas sebenarnya dalam periode bubble?

Perkembangan Emas

Pada jaman dahulu kala, emas telah menjadi alat tukar dalam bentuk koin, pada beberapa transkrip kuno bahkan emas telah menjadi alat tukar saat pemerintahan Julius Caesar di Kerajaan Romawi. Dalam era Nabi Muhammad, emas pun telah digunakan dalam transaksi ekonomi dalam bentuk koin dinar. Emas kemudian mengalami kemajuan pesat, sehingga untuk mencetak uang kertas (Fiat Money) diharuskan dengan penjaminan dalam bentuk emas sebagai cadangan devisa. Tetapi setelah berlangsung puluhan tahun, Amerika Serikat akhirnya tidak mampu menerapkan standard ini, sekitar tahun 1970-an karena krisis ekonomi negara tersebut tidak lagi menjamin fiat money-nya dengan emas dan lebih ditentukan oleh mekanisme pasar yaitu supply-demand dan kepercayaan pasar terhadap ketersediaan cadangan devisa yang dimiliki bank sentral suatu negara.

Emas yang seharusnya oleh beberapa pakar disebut sebagai fundamental dari sistem moneter global menjadi tersisih oleh kekuatan mata uang kertas, utamanya dollar amerika. Kondisi demikianlah yang mengakibatkan suatu perekonomian sangat rentan terhadap krisis karena semua ditentukan oleh mekanisme pasar, padahal didalam pasar tersebut hidup spekulan-spekulan, investor kelas gajah, rakyat kecil, politikus, dan sebagainya. Lalu siapa yang kira-kira menjadi korban? Anda bisa jawab sendiri.

Lindung Asset dengan Emas

Dalam banyak diskusi, sering rekan menanyakan apakah layak emas dipilih untuk melakukan hedging terhadap asset kita. Bahkan seorang teman secara “ekstrim” menyebutkan bahwa apabila kita menyimpan emas untuk tujuan mengekalkan kekayaan kita, maka akan dilaknat Tuhan. Kalau saya pribadi mempunyai jawaban bahwa tujuan saya menyimpan emas (perhiasan ataukah lantakan) lebih bersifat “investasi” pribadi untuk tujuan jangka panjang yang saya sesuaikan dengan kebutuhan dana saya kelak. Semua itu harus saya lakukan, mengapa? Karena ketidakmampuan rupiah kita untuk mempertahankan nilainya, suku bunga, laju inflasi dan karena faktor ketidakpastian perekonomian global yang sangat rentan terhadap sentimen (positif dan negatif). Apabila tidak ada penurunan nilai rupiah, inflasi sangat rendah, sektor riil kondusif, politik dan keamanan terjamin, dan angka indikator-indikator perekonomian Indonesia tidak semu, saya dengan senang hati menyimpan rupiah di bank syariah, walaupun misalnya tingkat bagi hasilnya dikisaran 1-2%. Tetapi apa kenyataannya? Fakta berbicara sebaliknya.

Orang tua saya bisa yang tidak mengenal ilmu perekonomian makro dan mikro, tidak tahu arti investasipun bisa survive selama masa pensiun dari simpanan emas. Dalam pesan beliau saat saya masih kuliahpun selalu mengatakan untuk menyimpan emas, sebagai jaga-jaga apabila ada kebutuhan mendadak. Nah, lalu apakah misalnya saya menyimpan emas untuk tujuan jaga-jaga, bukan diperjual belikan dengan dengan tujuan spekulatif, bukan dengan tujuan mendapat capital gain atas jual-beli itu, sudah membayar zakat maal atas simpanan emas, dan menyimpannya demi tujuan kebahagiaan keluarga kelak, apakah salah?

Bubble Emas

Banyak teman yang menanyakan apabila emas dalam periode bubble kapan pecahnya, apakah bisa seharga 300 USD/t.oz seperti tahun 1999 lagi, pada harga berapa top-valuenya dan sebagainya. Terus terang saya tidak bisa menjawabnya, karena sekali lagi saya bukan seorang ahli ekonomi yang bisa secara pasti memberikan analisis fundamental terkait masalah ini.

Banyak fund manager yang menyakini bahwa emas saat ini masuk periode bubble, proses ini sebenarnya alamiah, yang terjadi karena pola kegiatan konsumsi dan manipulasi mekanisme supply-demand yang secara berulang diantara investor kakap. Bahkan para ahli menyebutkan dalam satu dasawarsa emas telah menjadi the best-performing asset class dari Januari 2001 sampai Desember 2010. Kepercayaan masyarakat luas akan kenaikan gradual nilai emas ini membuat harapan return atas capital gain menjadi makin tinggi. Maka nilai komoditi sesuai mekanisme pasar yang seharusnya didasarkan keseimbangan supply-demand menjadi bergeser kepada lebih pada aksi ambil untung dari investor secara spekulatif.

Mekanisme ini tidak akan berlaku selamanya, selalu ada periode dimana permintaan stagnan dan investor mulai melihat bahwa produk tersebut tidak lagi menarik karena overprice yang berimbas kepada turunnya nilai secara pasti. Akhirnya akan terjadi kepanikan pasar secara luas dan memacu pecahnya bubble. Pecahnya bubble itu sendiri diyakini akan menuju ke arah keseimbangan baru, yaitu ke arah mekanisme pasar yang sesuai dengan prinsip supply-demand yang tanpa distorsi dari ulah spekulan pasar.

Apabila ditanya kapan bubble emas akan pecah, saya tidak mampu menjawab secara pasti sekali lagi karena segala keterbatasan saya yang tidak mampu memprediksi kekuatan pasar, pemikiran dan cara kerja investor-investor tersebut.

Yang saya yakini bahwa sebenarnya yang menjadi bubble itu sendiri adalah hutang pemerintah. Kita dapat melihat bahwa laju “pertumbuhan” hutang negara sendiri begitu cepat. Hutang dalam negeri dan luar negeri kita sangat tinggi dan sangat rentan pecah pada saat yang tidak diduga-duga. Lalu yang terjadi adalah krisis moneter jilid II yang pasti akan menyengsarakan kita semua.

Jumlah utang Indonesia tahun 2009 sudah mencapai Rp. 1.602,19 trilyun. Jumlah utang itu meningkat dari tahun ke tahun, peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2007 ke 2008. Utang pada tahun 2007 berjumlah Rp. 1.389,41 trilyun meningkat pada tahun 2008 menjadi Rp. 1.636,74 trilyun

Total peningkatan utang Indonesia sejak tahun 2000 yang berjumlah Rp. 1.234,28 trilyun hingga tahun 2009 hampir mencapai Rp.400 trilyun. Jika nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika membaik, maka jumlah utang tersebut akan berkurang.

Adapun jumlah utang yang jatuh tempo tahun 2010 sebesar Rp. 116 trilyun, meningkat tajam dari tahun lalu yang hanya Rp. 29 trilyun. Jumlah utang jatuh tempo Indonesia dalam jumlah besar akan terjadi lagi pada tahun 2033 yakni Rp. 129 trilyun (maiwanews.com)

Secara jumlah, utang Indonesia memang meningkat dari tahun ke tahun. Berikut catatan utang pemerintah pusat sejak 2000 berikut rasio utangnya terhadap PDB. Di 2000, utang sebesar Rp1.234,28 triliun dengan rasio 89%, 2001 Rp1.273,18 triliun (77%), 2002 Rp1.225,15 triliun (67%), 2003 Rp1.232,04 triliun (61%), 2004 Rp1.299,50 triliun (57%), 2005 Rp1.313,29 triliun (47%), 2006 Rp1.302,16 triliun (39%), 2007 Rp 1.389,41 triliun (35%), 2008 Rp1.636,74 triliun (33%), 2009 Rp1.590,66 triliun (28%), dan di 2010 Rp1.618,24 triliun (27%). (suara-islam.com)

Anda bisa melihat sendiri betapa dahsyatnya hutang negara kita, secara pasti jumlahnya akan selalu naik dan sangat berpotensi menjadi bubble yang setiap saat akan pecah. Ketika membaca nilai kenaikan hutang pemerintah ini dapat kita lihat bahwa nilai emas pun selalu secara konsisten naik mengikutinya. Apabila benar-benar terjadi burst atas hutang pemerintah ini yang tentunya bisa terjadi setiap saat, tentu akan berakibat tsunami perekonomian nasional. Situasi sama pun sedang dialami oleh raksasa kapitalis negara Amerika. Berita-berita dan fakta pun banyak yang mengulas masalah ini. Apabila itu benar-benar terjadi saya yakin persiapan kita yang menyimpan emas untuk hedging asset kita akan benar-benar berguna. Emas akan menjadi penyelamatnya dan nilainya akan terus melejit keatas. Masyarakat yang kehilangan kepercayaan lagi terhadap uang kertas akan kembali kepada emas.

Harga emas pada februari 2011 ini yang mencapai kisaran 1300 USD/t.oz menurut banyak ahli belum mencapai puncaknya. Bahkan seorang fund manager ternama memprediksi harga nilai puncak emas apabila didasarkan pada perhitungan real world inflation numbers ada pada kisaran USD 6000/t.oz.

Ketika anda membaca berita per tanggal 17 Februari 2011 yang mengatakan bahwa “World gold demand grew 9% during 2010 to 3,812.2 metric tons, its highest level in 10 years, said the World Gold Council Thursday in its quarterly demand-trends report”. Janganlah keburu panik dan meramalkan bahwa periode pecahnya bubble emas akan terjadi tidak lama lagi lalu berkesimpulan tidak membeli emas, atau menjual cepat-cepat simpanan emasnya.Ingat kembali pada tujuan keuangan anda, buka kembali rencana keuangan keluarga anda. Apakah memang anda menyimpan emas untuk tujuan spekulatif, ataukah anda termasuk seorang yang memiliki pemikiran konservatif-moderat yang hanya menyimpan emas sekali lagi untuk tujuan jaga-jaga…sesederhana pemikiran orang tua kita.

3 Tanggapan

  1. keren mas pemikirannya ijin share ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: