Proteksi dan Investasi, Tanpa Unit Link pun Bisa.

Sudah selama beberapa tahun ini saya selalu menjadi target market dari agen asuransi yang juga teman baik saya. Produk asuransi yang ditawarkan pun sangat menarik pada saat ditawarkan kepada saya. Perlindungan kesehatan, jaminan dana pensiun, uang pertanggungan dari asuransi jiwa, dan segudang manfaat lain. Ada yang menawarkan bahwa semua itu bisa didapatkan hanya dengan “menabung” sebesar Rp.1.000.000-an selama beberapa periode waktu.

Sekilas tawaran itu sangat menarik, apalagi ketika ditawarkan kepada saya yang awam ilmu asuransi, manajemen keuangan dan ilmu investasi tingkat tinggi ala Robert Kiyosaki. Membaca tulisan kecil-kecil pada polis, syarat-kondisi yang panjang, dan angka-angka yang njlimet kerap membuat kepala pusing ketika mencoba berlama-lama mempelajari dokumen tersebut.

Apabila kita renungkan, semua yang ditawarkan oleh teman saya adalah sesuatu yang baik, berkaitan dengan proyeksi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Unsur ketidakpastian itulah yang seharusnya kita proteksi sejak dari dini. Kita tidak mau kan pada saat terjadi financial disaster (bencana keuangan) pada diri dan keluarga kita pada saat kita tidak siap gara-gara lalai dalam merencanakan proyeksi keuangan dimasa depan.

Berkaitan dengan proyeksi masa depan, inilah yang diiming-imingkan perusahaan asuransi dengan nama investasi masa depan, dana pendidikan, dana tidak terduga, dana pensiun, dan dana kesehatan. Semuanya menunjukkan berapa uang yang akan kita terima sebagai imbal hasil “tabungan” pada masa sekarang. Jumlahnya pun kadang membuat kita terkagum-kagum.

Nah, apakah saya menerima tawaran teman saya tersebut untuk membeli produk paket asuransi+investasi-nya yang penuh dengan fitur itu? Jawabannya sayang sekali adalah tidak. Mengapa tidak, akan saya jelaskan ditulisan saya ini.

1. Asuransi
Dalam kehidupan manusia dibumi, yang penuh dengan unsur ketidakpastian dan disebabkan begitu banyak kejadian yang berada diluar kemampuan manusia. Kejadian tersebut sangat mungkin menimbulkan kerugian yang besar, dan kemungkinan kerugian ini dapat disebut resiko. Kesimpulannya semua manusia dan asset-assetnya dibumi akan menghadapi masalah yang sama yaitu resiko. Resiko alam, keuangan, kecelakaan dan sebagainya mengharuskan kita untuk me-manage-nya. Apabila mungkin kita harus menghindari (avoid), mengurangi (reduce), atau pun harus di alihkan (shifting/transfer).

Nah perusahaan asuransi itulah yang akan dengan senang hati menerima limpahan kemungkinan resiko yang sangat mungkin anda akan hadapi. Tentunya prinsip nothing for free tetap berlaku. Pengalihan resiko kepada perusahaan asuransi mengharuskan anda untuk membayar sejumlah dana secara berkala dan biasa disebut premi. Karena resiko yang akan kita hadapi bermacam-macam, maka muncullah variasi produk asuransi yang bermacam pula. Antara lain asuransi jiwa, kesehatan, kebakaran, kecelakaan, kendaraan bermotor dan dwiguna. Untuk lebih memudahkan maka dibagi asuransi jiwa dan asuransi umum.

Karena menurut saya asuransi ini sangat penting dan wajib hukumnya, maka saya pun membeli produk asuransi “murni” yang pernah ditawarkan kepada saya. Apa yang dimaksud asuransi “murni”? Asuransi tersebut adalah produk asuransi yang tidak sepaket dengan produk investasi (atau yang biasa dikenal dengan unit link). Sehingga saya pun kelak dapat menerima manfaat produk asuransi secara optimal dibandingkan apabila saya membeli produk paket asuransi-investasi yang ditawarkan teman saya. Lalu apakah keputusan yang saya ambil ini adalah langkah yang tepat? Nanti akan saya berikan penjelasannya.

2. Investasi

Reilly dan Brown (1994) mengatakan bahwa investasi adalah komitmen mengikatkan aset saat ini untuk beberapa periode waktu ke masa depan guna mendapatkan penghasilan yang mampu mengompensasi pengorbanan pelaku investasi (investor) berupa : (1) keterikatan aset pada waktu tertentu, (2) tingkat inflasi, dan (3) ketidak tentuan penghasilan dimasa yang akan datang. Artinya untuk dapat berinvestasi kita harus mempunyai aset pada masa sekarang, punya komitmen tinggi dan akhirnya pada suatu periode masa datang investasi itu sendiri akan memberi sejumlah penghasilan kepada kita sebagai kompensasi kegiatan kita dimasa lampau.

Untuk dapat berinvestasi kita haruslah memulainya dengan menabung. Ya, hanya dengan menabunglah kita dapat memulai untuk berinvestasi. Menabung berarti menyisihkan sebagian dari pendapatan kita setelah dikurangi dengan biaya hidup pada periode tertentu. Banyak ahli perencana keuangan dan buku-buku yang membahas tentang bagaimana cara kita untuk menabung. Andapun dapat dengan mudah untuk menabung, tanpa peduli berapa jumlah pendapatan bulanan anda. Saya yakin dengan disiplin tinggi, merubah gaya hidup dengan lebih sederhana, menekan anggaran pengeluaran, membuat perencanaan keuangan yang terukur, dan mencari side income, anda pasti bisa menabung secara terus menerus. Berapa jumlah tabungan yang diperlukan untuk memulai investasi tergantung kepada berapa jumlah kebutuhan anda kelak atau lebih tepatnya tergantung kepada tujuan keuangan anda. Dan sekali lagi tujuan keuangan anda harus bersifat personal dan bisa memenuhi apa yang anda cita-citakan kelak.

Selain gaya hidup yang lapar mata dan nafsu yang berlebihan, “mafia“yang paling kita takuti dalam kegiatan investasi adalah inflasi. Untuk dapat mengalahkan inflasi di Indonesia ini kita harus benar-benar jeli dalam berhitung untung rugi investasi. Jangan sampai maksud hati ingin untung tetapi akhirnya kita malah buntung akibat kita kalah dengan inflasi. Apabila tingkat inflasi misalnya 10% per tahun, maka anda harus bisa memperoleh imbal hasil investasi diatas 10% agar dapat menikmati hasil (return) atas investasi anda. Sangat  mudah kan? Setelah itu baru kita tentukan instrumen investasi apa yang paling memberikan hasil optimal dan tentunya dengan resiko yang seminimal mungkin.

Ingat investasi adalah rencana, maka rencanakan investasi anda.

2.1. Investasi Reksa Dana
Instrumen investasi yang akan saya bahas adalah reksa dana. Reksa dana  (mutual fund) adalah “wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana masyarakat pemodal dan selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi” ( UU Pasar Modal Nomor 8 tahun 1995, Pasal 1 ayat (27)). Memang selain reksa dana masih banyak intrumen investasi yang lain misalnya: saham, logam mulia, properti, obligasi, tabungan, deposito, koleksi lukisan, koleksi benda seni, hedge funds, dan sebagainya. Pada jenis investasi properti ataupun emas kita semua telah mengetahui growth dan return nya, tentunya dengan keterbatasan (baca: resiko) yang menyertainya. Mungkin yang belum banyak diketahui adalah reksa dana. Dari hasil survey sederhana pada teman-teman saya, ternyata banyak yang belum tahu apa itu sebenarnya reksa dana.

Menurut saya pribadi reksa dana lah instrumen investasi yang benar benar “gue banget”. Mengapa? Berikut alasan saya:Mudah dan fleksibel, untuk membeli reksa dana sangat mudah caranya dan tanpa perlu mempelajari analisa investasi yang rumit.Reksa dana memberikan kemudahan dalam hal jumlah nominal investasi, dengan dana Rp. 500.000,-  pun kita bisa membeli unit reksa dana.Pajak relatif rendah dibandingkan dengan deposito ataupun tabungan.Sangat likuid karena dapat dicairkan sewaktu-waktu.Dilindungi oleh hukum dan diatur secara ketat melalui Bapepam.Dikelola secara professional oleh ahlinya.Biaya investasi yang sangat rendah.Diversifikasi.Potensi return yang relatif lebih tinggi dari deposito dan tabungan dan yang lebih penting bisa mengalahkan laju inflasi.

Tentunya setiap investasi akan memiliki resiko bawaan masing-masing, berikut adalah resiko dari reksa dana:Resiko berkurangnya nilai penyertaan akibat dari konsekuensi logis fluktuasi nilai saham.Resiko likuiditas apabila terjadi redemption atau penjualan reksa dana secara besar-besaran. Di Indonesia pernah mengalami hal ini pada kurun waktu tahun 2005.Resiko politik dan ekonomi nasional.Resiko wanprestasi.Resiko pembubaran usaha.Resiko lainnya.

Lalu, apabila terdapat resiko diatas apakah reksa dana  masih merupakan instrumen investasi yang feasible? Menurut saya masih, karena menurut pengalaman dan penelitian pakar investasi, portofolio saham adalah instrumen investasi yang relatif lebih stabil dengan hasil optimal untuk jangka panjang. Apabila kita ingin kemudahan dalam bermain saham, maka reksa dana adalah pilihan yang menurut saya paling tepat.

Perencanaan keuangan, proteksi dan investasi yang saya lakukan
Apabila anda masih menjadi pegawai dengan gaji bulanan dan bonus setahun sekali, ataukah anda pemilik usaha kecil/menengah yang  setiap bulan masih pusing memikirkan pengeluaran, mungkin tulisan saya ini dapat menginspirasi anda. Apa yang saya lakukan ini sederhana, tidak rumit dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Tujuannya sekali lagi adalah pada saat kita tidak bekerja lagi (pensiun) kita masih berpenghasilan dari hasil investasi dan pada saat itu kita masih bisa mempertahankan gaya hidup seperti saat ini tanpa terpengaruh inflasi.

Mari kita membayangkan masa depan, yaitu pada tahun 2030. Tahun ketika saya berencana ingin pensiun. Misalnya kebutuhan hidup saya dan keluarga ( dengan 2 anak) pada masa sekarang (tahun 2011) sebesar Rp. 10 juta perbulan. Kebutuhan hidup tersebut sudah mencakup makan-minum, sekolah, pakaian, BBM, air/listrik, kursus, angsuran rumah dan kendaraan dan infaq Sedangkan misalnya penghasilan saya perbulan rata-rata Rp.11,5 juta. Ada sejumlah rupiah yang besarnya 1,5 juta yang bisa saya sisihkan untuk kegiatan proteksi, menabung dan akhirnya saya investasikan. Pada tahun 2011 dari hasil side income saya memperoleh dana tambahan sebesar 50 juta. Untuk bisa mempertahankan daya beli seperti tahun 2011, dengan laju inflasi sekitar 10% biaya hidup sebesar 10 juta rupiah diperkirakan akan menjadi sekitar 61 juta rupiah pada 19 tahun yang akan datang. Lebih lanjut apabila saya berencana berpenghasilan hanya dari bunga deposito pada saat pensiun saya harus mempunyai dana sekitar 11 milyar rupiah di bank untuk menghidupi saya kelak dengan tujuan agar mampu mempertahankan gaya hidup seperti sekarang. Ingat jangan membayangkan uang senilai 11 milyar pada tahun 2030 itu senilai 11  milyar pada saat ini. Uang senilai 11 milyar pada tahun 2030 itu kira-kira senilai 1,8 milyar pada tahun 2011 sekarang. Nah, apakah bisa saya mengumpulkan uang sebesar itu? Dengan perencanaan keuangan yang baik insya Allah pasti bisa.

Dalam perjalanan hidup, saya berencana membuat proyeksi keuangan jangka pendek, menengah dan panjang antara lain: dana kesehatan keluarga, dana pendidikan untuk 2 anak sampai lulus S1, dana tahunan liburan keluarga, dana tak terduga, asuransi jiwa premi tahunan, dana pemeliharaan rumah setiap 10 tahun, dan dana tambahan pembelian mobil baru setiap 10 tahun.

Dengan memperhitungan tingkat suku bunga, inflation rate, time value of money saya bisa memprediksi rencana keuangan saya. Sehingga dengan memperhitungkan asset saat ini dengan mudah saya bisa mendiversifikasi investasi saya dan berharap return yang optimal sesuai rencana keuangan yang telah saya susun.

Pada tahun 2011 ini saya akan berusia 35 tahun. Saya merasa bahwa pada tahun inilah saya harus mengoptimalkan tumbuh kembangnya investasi saya, mengapa? Karena saya berencana pensiun kerja pada umur 55 tahun. Jadi masih ada sisa waktu 20 tahun untuk mengakselerasi laju investasi saya diberbagai instrumen. Sedangkan dari hasil kerja selama kurang lebih 10 tahun saya sudah berhasil mengumpulkan sejumlah tabungan dan properti sederhana. Harapan saya asset saya tersebut bisa mendanai kebutuhan dan gaya hidup saya kelak.

Dari hasil belajar singkat saya beberapa tahun lalu, saya memutuskan untuk secara disiplin membeli produk reksa dana dengan jumlah tetap yaitu setara 1 juta (nilai sekarang) selama 10 tahun. Pembelian reksa dana ini sudah saya mulai beberapa tahun yang lalu. Saya tidak peduli apakah harga beli naik ataukah turun. Yang saya tahu bahwa setiap bulan saya harus membeli produk reksa dana secara terus menerus. Saya yakin dengan visi investasi jangka panjang dengan strategi seperti ini, saya bisa memperoleh return yang optimal sesuai rencana keuangan saya. Strategi ini oleh beberapa ahli dikenal sebagai cost averaging. Lalu berapa rupiah return reksa dana saya pada periode waktu tertentu? Dengan perhitungan berdasar anuitas dan berdasarkan perkiraan jangka panjang, pada tahun ketiga (setelah bulan ke 36) nilai investasi tahunan bisa pada kisaran 30 persen. Jadi dalam periode 3 tahun nilai uang 36 juta diharapkan akan berkembang menjadi sekitar 60 juta. Apakah mungkin? Jawabannya mungkin. Sebagai contoh nyata kinerja danareksa mawar (equity fund) dalam 1 tahun terakhir (periode 12 bulan sebelum Februari 2011) memberikan hasil investasi tahunan sebesar 28,54%. Bahkan untuk reksadana campuran (balance fund) kinerja 1 tahun terakhir Schrodder DP adalah 25,99%.

Sekarang anda sendiri yang akan menghitung berapa hasil investasi saya yang saya lakukan secara repetitif dan steady pada tahun ke-10 dengan dana investasi yang hanya 1 juta per-bulan. Compounding does really works!….

Selanjutnya saya memegang prinsip untuk tidak menaruh telur dalam satu keranjang. Saya harus melakukan itu, apabila saya bisa lepas dari bencana keuangan apabila terjadi sesuatu hal yang diluar rencana.

Emas jawabannya. Ya, saya memutuskan untuk membeli emas. Lalu apakah saya ikut-ikutan latah berkebun emas melalui instrumen gadai seperti yang ramai dibicarakan orang? Tidak. Saya tidak seratus persen percaya bahwa berkebun emas akan menghasilkan return yang optimal. Saya lebih memilih konservatif, yaitu dengan membeli emas lantakan (bukan perhiasan) dan menyimpannya ditempat yang aman yaitu di safe deposit box. Emas lantakan yang saya beli misalnya pada bulan februari 2011 ada pada kisaran harga 402.000,- per gram untuk 24 karat. Lalu berapa perkiraan harga emas pada masa yang akan datang? Dari hasil trend harga emas dunia (bisa di cek di http://www.kitco.com) diketahui bahwa growth emas (lebih tepatnya penurunan rupiah) secara konsisten dan stabil ada pada kisaran 15-20%. Anda bisa berhitung berapa proyeksi nilai emas 2, 3 atau 5 tahun kedepan. Yang jelas trend nilai emas cukup aman untuk mengalahkan laju inflasi yang diperkirakan pada kisaran 10%. Rencana saya pada tahun dimana saya membutuhkan dana pendidikan untuk anak, saya akan menarik hasil investasi saya pada instrumen emas, sukuk dan reksa dana. Apakah cukup? Dari hasil hitungan spreadsheet di komputer malah lebih dari cukup.

Lalu bagaimana dengan rencana kebutuhan dana yang lain semisal haji, infaq, dana liburan, dana renovasi rumah, tambahan pembelian mobil baru dan lain-lain? Ingat saya masih mempunyai side income yang secara disiplin lagi-lagi tidak akan dibelanjakan kecuali darurat dan hanya untuk kegiatan investasi. Kemana investasi itu akan saya lakukan? Kembali kepada perencanaan keuangan saya. Dengan sistematis saya bisa melakukan diversifikasi investasi sesuai dengan perencanaan jangka pendek, menengah dan panjang. Dari hasil side income tersebut saya berencana untuk memecah anggaran investasi kepada beberapa instrumen yaitu obligasi, emas, properti, reksa dana, dan deposito. Kedepan saya juga berencana untuk melakukan reinvestasi, switching instrumen investasi dan strategi investasi lain.

Saya berencana mengevaluasi rencana keuangan saya setiap awal tahun. Rencana menurut saya harus selalu dievaluasi, dari hasil evaluasi tersebut bisa dijadikan referensi untuk pengambilan keputusan. Sepahit apapun keputusan itu misalnya, harus tetap dilakukan karena tujuan telah ditetapkan.

Lalu bagaimana dengan proteksi terhadap penghasilan saya? Jawabannya adalah asuransi. Nah disinilah saya akan coba jelaskan mengapa saya menolak tawaran asuransi dengan paket unit link dan memilih asuransi “murni”.

Dari hasil belajar singkat dan dari hasil diskusi dengan teman agen asuransi. Saya berkesimpulan bahwa lebih efektif dan efisien apabila saya membeli produk asuransi dan investasi terpisah daripada membeli paket unit link. Mari kita berhitung dengan sederhana. Apabila saya membeli asuransi jiwa term-life sampai usia 70 tahun dengan uang pertanggungan 1.000.000.000 (pada februari 2011) pada salah satu perusahaan asuransi, dengan usia tertanggung 35 tahun maka premi tahunan saya pada tahun 2011 ada pada kisaran 2,8 juta. Apabila saya ingin menambahkan benefit kesehatan dengan coverage dana rawat inap 500.000/hari dan ICU 1.000.000/hari saya cukup menambah sekitar 370 ribu/tahun. Total biaya asuransi pertahun sekitar 3,2 juta, selanjutnya mengikuti usia, premi akan naik sekitar Rp.200.000-400.000 sampai dengan usia 40 tahun. setelah itu pada usia 55 tahun perkiraan premi tahunan akan berkisar Rp.15 juta-an. Bagi saya skema rencana proteksi itu very reasonable dan layak untuk diterapkan.

Lalu bagaimana apabila saya membeli produk paket unit link+waiver+perlindungan kesehatan pada perusahaan asuransi? Sebagai gambaran baru-baru ini saya dibuatkan proposal bahwa saya akan mendapatkan perlindungan sampai usia 100 tahun, dengan uang pertanggungan Rp.100.000.000, top up investasi Rp.2,500,000/tahun, dana kesehatan yang sama dengan membayar total premi sebesar Rp.6,1 juta/tahun.

Menurut saya, usia perlindungan sampai 100 tahun itu sesuatu hal yang mubazir. Untuk term-life perlindungan sampai dengan 70 tahun itu saya kira sudah maksimal. Pertanyaan bagi diri saya sendiri adalah apakah saya perlu asuransi jiwa pada usia 70 tahun? Berapa preminya? Dimana saya sudah tidak bekerja, anak-anak sudah mandiri, kehidupan saya pada usia itu saya perkirakan sudah relatif tenang dan tidak perlu memproteksi diri dengan asuransi jiwa. Toh, saya sudah mendapatkan bonus 5 tahun dari rata-rata harapan hidup yang 65 tahun. Pada usia tersebut menurut saya yang lebih penting adalah dana pensiun, dana kesehatan dan utamanya proteksi untuk mempersiapkan kematian bukan menghindarinya, dengan lebih melakukan kegiatan secara intens mendekatkan diri pada Tuhan dan kegiatan keagamaan lainnya.

Nah, yang lebih ngeri adalah uang pertanggungan yang hanya 100 juta rupiah. Dengan laju inflasi 10% per tahun, saya perkirakan uang 100 juta tersebut akan habis dalam hitungan sekitar 40 hari apabila tutup usia saya 60 tahun. Lalu apakah worth it bagi ahli waris saya? Sama sekali tidak. Bandingkan dengan UP saya apabila saya membeli produk AJB diatas. UP nya 10x lipat!. Dan apabila dibandingkan lagi dengan benefit pengembalian nilai tunai ataupun maslahat meninggal tetap tidak sebanding. Bagi saya, asuransi tidak mencari pengembalian nilai tunai, tetapi perlindungan terhadap resiko. Semua nilai tunai dapat tercapai dengan rencana keuangan/investasi yang terukur.

Lalu bagaimana dengan benefit top up yang sebesar 2,5 juta/tahun yang menurut ilustrasi bisa menghasilkan return ratusan juta pada suatu periode masa depan? Kemudian kemudahan bebas premi apabila terkena penyakit kritis/cacat tetap pada periode perlindungan?

Perlu diketahui bahwa sebenarnya investasi unit link itu sendiri adalah reksa dana juga. Jadi pertanyaannya adalah apabila saya sudah mempunyai reksa dana dengan membeli langsung kepada agen penjual apakah saya harus membeli dari perusahaan asuransi. Subcription fee apabila saya membeli langsung hanya sekitar 1%, redemption fee juga pada kisaran 1%. Bandingkan dengan pembelian unit link, bisa-bisa tahun-tahun awal tidak langsung masuk unit investasi, ada biaya administrasi, dan fee yang bisa sebesar 5%.

Lalu bagaimana dengan kemudahan waiver yang membebaskan kita dari premi karena penyakit kritis dan cacat tetap? Begini saja, apabila resiko penyakit kritis tersebut benar terjadi pada diri saya, apa yang saya harapkan? Rencana UP besar ataukah waiver atas premi? Menurut hitungan logika saya pada saat resiko itu terjadi yang lebih penting adalah plan UP besar, sedangkan untuk resiko cacat tetap sehingga tidak bisa bekerja saya masih bisa membiayai premi dan melanjutkan hidup dengan hasil investasi ataupun reinvestasi yang saya kelola dengan terencana. Kalaupun terkena penyakit kritis yang perlu kita cari adalah asuransi kesehatan yang premium yang bisa mengcover penyakit kronis.

Dengan demikian saya tidak dapat melihat adanya value added yang diberikan unit link dibandingkan dengan membeli produk asuransi dan reksa dana secara terpisah. Menurut saya pribadi unit-link hanya menarik bagi orang yang belum memahami secara jelas reksa dana sebagai salah satu jenis investasi. Kelebihan unit link yang ditawarkan adalah mungkin kepraktisan dalam berinvestasi. Tetapi ingat, andapun dapat membeli reksa dana di agen penjual yaitu bank. Untuk membeli reksa dana di Bank Mandiri misalnya, anda hanya perlu ambil nomor antrian customer service, tunggu 10 menit, minta penjelasan singkat reksa dana, pilah-pilih, dan melakukan transaksi pembelian. Sesederhana itu…..

Nah, apabila anda saat ini belum berinvestasi dan belum berasuransi waktu yang paling tepat untuk memulai adalah sekarang juga. Apabila anda menunda melakukan proteksi dan investasi, harga yang harus anda bayar atas biaya penundaan itu akan sangat mahal dan mungkin akan anda tanggung selama sisa hidup anda.

Tulisan saya diatas bukan berarti saya anti terhadap unit link,  tetapi saya hanya memberi ilustrasi nyata, ilustrasi yang mungkin seharusnya disajikan oleh agen asuransi anda. Prinsip kehati-hatian, paham atas resiko, rencana yang matang, dan disiplin sangat diperlukan sebagai suatu syarat mutlak perencanaan keuangan anda. Lalu, apakah anda salah ketika saat ini sudah membeli unit link? Tidak juga, apabila unit link itu memang termasuk dalam rencana keuangan anda, dan anda sudah paham reksa dana. Harapan saya, kita semua harus mempunyai investment minded seperti halnya penduduk di negara-negara maju. Impian untuk muda kerja-kerja, tua kaya raya, mati masuk surga bisa secara sederhana diwujudkan.

Sayangi diri anda dan keluarga anda, serta berinvestasilah…………

15 Tanggapan

  1. setujuuuuu

  2. masukan yg bagus pak, kalo boleh tau, bpk masuk asuransi term life dan kesehatan mana ya?

    • kalo saya pilih asuransi yang sesuai dengan tujuan keuangan saya pak, silakan bapak sesuaikan dengan tujuan bapak, pilih yang sesuai dengan kebutuhan bukan karena yang lain.

  3. kalo mau ikutan asuransi murni yg 3.2jt/thn dgn UP 1M itu dmn ? Thanks infonyaa

  4. “Proteksi dan Investasi, Tanpa Unit Link pun Bisa. Primarycons” seriously causes myself ponder a small amount extra.

    I really treasured each and every single section of this
    post. I appreciate it ,Marilou

  5. Asuransi yg bpk jelaskan Memang sangat rumit. Memang prlu hati2 dlm memilih produk dan agen Yg bs mnyesuaikan Kebutuhan.
    Sy jg Pny pgalaman yg sama Dlm Asuransi maupun Produk Investasi murni, & skrg sdh mnemukan produk yg tepat utk investasi & insurrance Yaitu slh satu asuransi dr Neg. Italia

  6. Pas sekali saya sedang mencari info investasi n asuransi. agak telat mungkin y. tapi kan better late than never.
    Thanx infonya pak. Izin copas y pak untuk arsip saya.
    Hanya saja saya masih belum nemu asuransi yang tepat, setiap blog/artikel yang saya baca pun tidak ada yang mention pure asuransi utk referensi. ya memang sih kalo disebut malah dikira promosi.

  7. hehehe. bener juga pak,. makanya saya fokuskan menjual yang murni, agar asuransi kembali ke tugas pokoknya. investasi ada sendiri dong ahlinya

    yudhistya.com

  8. Selamat siang pak,
    membaca tulisan bapak diatas saya jd tertarik untuk mengikuti jejak bapak, kalau bapak berkenan saya ingin menggunakan asuransi tanpa unit link, blh saya minta cp nya pak?

    terima kasih sebelumnya, dan sukses selalu untuk bapak.


    Berry
    0812-8034-6350
    berry.dht.se.pecenongan@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: